MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.

Friday, July 25, 2014

STRAITS CHINESE EMBROIDERED WEDDING DRESS # 2












BAJU SULAM PENGANTIN PERANAKAN # 2
1940 - 1960, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra dan benang kilap diatas kain satin
150 cm x 85 cm
Benda terpakai yang masih lumayan baik
Zold-Surabaya

Thursday, July 24, 2014

STRAITS CHINESE EMBROIDERED WEDDING ROBES # 1












JUBAH SULAM PENGANTIN PERANAKAN # 1
1930 - 1940, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra, benang emas dan logam diatas kain satin
162 cm x 88 cm
Benda terpakai dengan kondisi yang masih sangat baik,  ada beberapa flex karena lama penyimpanan

Kebanyakan kain sulam baju pengantin kalau penyimpananya benar, selalu masih dalam kondisi yang baik. Begitu juga kain Tok-wi atau jenis kain sulaman lain, sebenarnya jarang rusak karena pemakaian, karena hanya dipakai 1 atau 2 kali dalam setahun untuk perayaan, rusaknya kebanyakan terjadi pada benang motifnya yang terlepas atau putus karena adanya peregangan ketika dilipat untuk disimpan. Tok-wi mungkin sedikit lebih riskan terkena bara dupa atau tumpahan makanan / minuman. Dan penyimpanan yang bisa dilakukan terhadap kain sulaman tua kalau kita tidak memajangnya mungkin dengan cara menggulungnya dengan pipa palaron atau pipa kertas kain, sedikit membantu mengurangi peregangan dibandingkan kalau dilipat.

Bagi yang berkecukupan, baju pengantin biasanya dibuatkan khusus per-individu mempelai, berharap hanya sekali dipakai, dan tersimpan sebagai properti keluarga. Hal ini seharusnya membuat baju pengantin Peranakan lumayan banyak, atau paling tidak bisa sama jumlah dengan kain Tok-wi misalnya, tapi kenyataannya adalah tidak begitu, selain baju pengantin banyak yang rusak karena ketidak-acuhan dan salah penyimpanan, juga kegiatan ceremonial perkawinan yang 'terlalu' Cina dan melibatkan orang banyak menjadi agak 'tabu' setelah tahun 1966 ( sama seperti Barongsai, Potehi dan wayang orang / opera Cina ).
Tapi yang paling mempengaruhi tentunya adalah pergeseran budaya dengan masuknya tata cara kehidupan 'Eropa / barat' yang sangat dominan, sehingga secara perlahan ceremony perkawinan Peranakan mengikuti ala bule, gaun pengantin putih dan jas, komplit dengan tustel-nya.
Tok-wi dan benda keagamaan lainya sedikit beruntung dapat bertahan lebih lama penggunaanya, selain tetap lestari di dalam klenteng - klenteng, juga Peranakan Cina sedikit unik, life-style baru selalu welcome, tapi kalau menyangkut kepercayaan dan selera untuk perut,,nanti dulu mister,,..
Zold-Jakarta

Wednesday, June 18, 2014

CHINESE CELADON GLAZED PORCELAIN BOWLS














6 MANGKOK CELADON DAN 6 PASANG SUMPIT LACQUER
Keramik porselen dengan warna hijau dan putih di bawah glasir
Abad 18 - 19, Qing Dynasty, Jingdezhen, Cina
Marking nama perusahaan pembuat
-3 mangkok besar diameter 13 - 13,5 cm, tinggi sekitar 6 cm
-3 mangkok kecil diameter 11 cm, tinggi sekitar 5,5 cm
Kondisi ada cuil, gripis dan hairline seperti pada foto, secara keseluruhan masih layak
-6 sumpit kayu berlapis lacquer hitam, tahun 1950an
Panjang sekitar 25,5 cm, kondisi belum terpakai dan masih baik

Mangkok yang sejaman dengan mangkok Samtiong, mangkok makan nasi Peranakan yang dipergunakan bersama dengan sumpit atau sendok bebek. Jumlahnya tidak sebanyak keramik Samtiong, juga sering ditemukan sebagai muatan kapal - kapal yang karam pada abad 18 dan 19. Jadi termasuk export ware dari Cina untuk Asia Tenggara.
Kesemua benda diatas, 6 mangkok, 6 pasang sumpit dan 1 korek gas tokai
Zold-Semarang

Sunday, June 15, 2014

CHINESE BLUE AND WHITE PORCELAIN BOWLS & PLATES














6 KERAMIK BIRU PUTIH SAMTIONG
Keramik porselen dengan warna biru putih di bawah glasir
Abad 18 - 19, Qing Dynasty, Jingdezhen (?), Cina
Marking nama perusahaan pembuat
3 buah mangkok diameter 14 cm x 5,6 - 6 cm
3 buah piring diameter 14,5 cm x 2 cm
Kondisi semua utuh, hanya beberapa cacat / flaw pembuatan

Keramik yang kita sebut ''Samtiong'' ini memang unik, jumlahnya lumayan banyak ditemukan di Indonesia terutama di rumah Cina peranakan pulau Jawa. Dulu sekali dapat jumlahnya bukan hanya beberapa, tapi bisa mencapai puluhan buah. Ukuran mangkok dan piringnya lumayan variatif.

Entah kenapa namanya Samtiong kalau disini, tapi kalau diluaran keramik ini identik sebagai keramik harta karun kapal karam. Ada beberapa pengangkatan keramik kapal karam baik di Asia atau Afrika yang selalu saja keramik ini ikut serta sebagai muatannya.
Karena kualitas keramiknya yang sangat baik, walaupun berusia ratusan tahunpun keramik ini tidak akan ada "retak seribu'nya, lapisan glasirnya cemerlang dan tidak mudah tergores. Ketika terlendam dalam laut selama hampir 2 abad, bentuk fisiknya tidak banyak berubah. Maka tidak mengherankan, Samtiong yang dibeli di Indonesia dan dijual diluar sana dengan embel- embel dari pengangkatan kapal karam, tidak akan ada bedanya. Yang berbeda hanya nominalnya, lumayan signifikan.

Keramik jenis Samtiong di prediksi sebagai jenis export untuk pangsa pasar Asia, terutama peranakan Indonesia atau Malaysia, sudah berlangsung sejak abad 17 sampai 19 tampa mengalami banyak perubahan bentuk dan motif.
Jumlahnya memang lumayan banyak dan sangat umum, prinsip ekonomi berlaku pada benda seperti ini, jumlah banyak / tinggi maka nilainya akan kecil / rendah, tampa peduli akan kualitas dan usia si benda. Tapi hal ini tidak akan berlaku selamanya, diprediksa benda ini jumlahnya akan menipis beberapa saat kedepan, terkuras karena dalam beberapa tahun terakhir sudah jadi komoditas populer. Ikut populer karena penemuan dalam kapal karam ?
Zold-Semarang