MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.

Saturday, August 9, 2014

GLAZED YIXING TEA BOWLS #1








4 CANGKIR TEH YIXING
1910 - 1930, Yixing, Cina
Glasir hijau di atas terakota
Diameter 4 cm, tinggi sekitar 2,5 cm
Benda terpakai dengan patina teh (mudah di bersihkan, tapi dosa ), 3 buah utuh, 1 buah / cangkir ke 4 ada grimpil lumayan di bibir atas dan grimpil kecil di pantat bawah

Termasuk jenis keramik eksport hanya untuk wilayah Asia Tenggara, mungkin pesanan khusus untuk kalangan Cina Peranakan, maka jumlahnya jauh lebih sedikit di bandingkan teko Yixing-nya, karena teko Yixing tersebar di seluruh dunia, tidak hanya di Cina sendiri, tapi di eksport ke Asia, Eropa dan Amerika.
Kita di Indonesia terutama di Jawa bisa mendapatkan cangkir seperti ini 'relatif' masih mudah, tapi di luar itu, cangkir jenis ini bisa dikategorikan langka,,kelangkaannya nyaris mirip seperti keramik jenis 'njonja ware', hanya masih kalah / belum populer saja.

Sama hal-nya dengan jenis cangkir - cangkir sloki kecil Cina lainnya, cangkir Yixing ini juga sering di pakai untuk di isi teh atau arak sebagai sesaji di atas meja sembahyang bagi Dewa maupun leluhur.

4 buah cangkir mini ini :
Zold-Jakarta


Thursday, August 7, 2014

STRAITS CHINESE ALTAR CLOTH









KAIN TOKWI 8 DEWA
1960 - 1970, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra dan benang kilap di atas kain satin
108 cm x 110 cm
Benda terpakai yang masih sangat baik

Kain altar / meja sembahyang dengan motif 8 dewa dan 3 dewa personafikasi astrologi Cina untuk berkah kebahagiaan (spiritual), rejeki kemakmuran (materi) dan panjang usia, yang biasa disebut Fu Lu Shou atau Hok Lok Siew. Urutan ketiga-nya dari kanan ke kiri seperti membaca huruf Cina.

Penggunaan kain satin pada sulaman Cina Peranakan baru mulai marak setelah diatas tahun 1930an, walaupun di Eropa jenis kain ini telah beredar sejak permulaan abad 20. Kain satin di ciptakan sebagai kain alternatif pengganti kain sutra yang lebih mahal karena murni 100 persen bahan alam. Fisiknya mirip, hanya satin lebih tebal, licin dan lebih mengkilap, sutra lebih lembut dan ringan serta lebih berpori sehingga jauh lebih nyaman untuk tubuh manusia.

Penggunaan mesin nampaknya juga sudah dimulai setelah tahun 1950an, dan ditambahkan pengerjaan tangan untuk warna atau materi tertentu.Terlihat kerapatan sulamannya jauh melebihi kerapatan sulaman tangan. Konsep kemeriahan warna - warna cerah dan 'ngejreng' yang menjadi ciri kegemaran Peranakan tidak hilang, malah semakin menjadi- jadi.

Tokwi ini mungkin hanya di pakai beberapa kali, setelah itu hanya tersimpan rapi. Karena setelah jaman Orde Baru segala yang berbau Cina mulai terbatasi, tokwi - tokwi yang dibuat setelahnya pun cenderung menjadi lebih sederhana, mungkin hanya berwarna merah dengan satu dua tulisan Cina. Hilang sudah kreatifitas dan selebrasi, lebih pada penahanan diri,,,
Zold-Jakarta

Thursday, July 31, 2014

CHINESE ENCYCLOPEDIAS (?)












BUKU ENSIKLOPEDIA (?) BAHASA CINA
1920 - 1940 (?), Cina
Hard cover, 13,5 cm x 19,5 cm, tebal 5,5 cm
Berisi sekitar 700an lembar atau sekitar 1400 - 1500an halaman
Semua halaman masih lengkap, masih lumayan baik

Buku ini dulunya milik Bapak Liem Djie Hoen, seorang lelaki intelektual Peranakan yang juga pemilik perusahaan batik ''Liem Djie Hoen'' di Ngabean, Jogjakarta pada jaman Belanda. Batiknya kebanyakan batik sogan dengan motif yang kadang - kadang sangat unik, seperti kapal laut dan pesawat baling - baling misalnya.

Buku semacam ensiklopedi tentang benda - benda budaya dan keilmuan Cina juga dunia, kadang - kadang ada tampilan panduan gambar pada banyak halamannya. Buku apa tepatnya, tidak tahu pasti karena tidak menguasai bahasa dan aksara Cina.
Zold-Jakarta

Friday, July 25, 2014

STRAITS CHINESE EMBROIDERED WEDDING DRESS # 2












BAJU SULAM PENGANTIN PERANAKAN # 2
1940 - 1960, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra dan benang kilap diatas kain satin
150 cm x 85 cm
Benda terpakai yang masih lumayan baik
Zold-Surabaya

Thursday, July 24, 2014

STRAITS CHINESE EMBROIDERED WEDDING ROBES # 1












JUBAH SULAM PENGANTIN PERANAKAN # 1
1930 - 1940, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra, benang emas dan logam diatas kain satin
162 cm x 88 cm
Benda terpakai dengan kondisi yang masih sangat baik,  ada beberapa flex karena lama penyimpanan

Kebanyakan kain sulam baju pengantin kalau penyimpananya benar, selalu masih dalam kondisi yang baik. Begitu juga kain Tok-wi atau jenis kain sulaman lain, sebenarnya jarang rusak karena pemakaian, karena hanya dipakai 1 atau 2 kali dalam setahun untuk perayaan, rusaknya kebanyakan terjadi pada benang motifnya yang terlepas atau putus karena adanya peregangan ketika dilipat untuk disimpan. Tok-wi mungkin sedikit lebih riskan terkena bara dupa atau tumpahan makanan / minuman. Dan penyimpanan yang bisa dilakukan terhadap kain sulaman tua kalau kita tidak memajangnya mungkin dengan cara menggulungnya dengan pipa palaron atau pipa kertas kain, sedikit membantu mengurangi peregangan dibandingkan kalau dilipat.

Bagi yang berkecukupan, baju pengantin biasanya dibuatkan khusus per-individu mempelai, berharap hanya sekali dipakai, dan tersimpan sebagai properti keluarga. Hal ini seharusnya membuat baju pengantin Peranakan lumayan banyak, atau paling tidak bisa sama jumlah dengan kain Tok-wi misalnya, tapi kenyataannya adalah tidak begitu, selain baju pengantin banyak yang rusak karena ketidak-acuhan dan salah penyimpanan, juga kegiatan ceremonial perkawinan yang 'terlalu' Cina dan melibatkan orang banyak menjadi agak 'tabu' setelah tahun 1966 ( sama seperti Barongsai, Potehi dan wayang orang / opera Cina ).
Tapi yang paling mempengaruhi tentunya adalah pergeseran budaya dengan masuknya tata cara kehidupan 'Eropa / barat' yang sangat dominan, sehingga secara perlahan ceremony perkawinan Peranakan mengikuti ala bule, gaun pengantin putih dan jas, komplit dengan tustel-nya.
Tok-wi dan benda keagamaan lainya sedikit beruntung dapat bertahan lebih lama penggunaanya, selain tetap lestari di dalam klenteng - klenteng, juga Peranakan Cina sedikit unik, life-style baru selalu welcome, tapi kalau menyangkut kepercayaan dan selera untuk perut,,nanti dulu mister,,..
Zold-Jakarta