MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.
Sunday, August 10, 2014
PELIKAAN SIGAREN
PRODUK CERUTU PELIKAAN
Offset print diatas kertas.
1930an, cetakan " SAM HOO ", Kudus, Indonesia.
Produk cerutu dari The Kim Hok, Kedu, Temanggung.
51,5 x 36,5 cm.
Relatif baik, ada sedikit grepes pinggir dan 2 lubang kecil.
Sebenarnya ini adalah iklan produk cerutu yang lumayan bagus, offset lithograph-nya masih tipe awal. Terlihat '' pola dot ''nya masih sangat simpel, hanya titik dot / roset satu warna saja, sedangkan 3 warna primer dan hitam tidak memiliki pola / pattern dot. Kualitas cetak dan desainnya baik, begitu juga usianya, lumayan uzur.
Kalau jumlahnya limit / sedikit, mungkin iklan kertas ini akan masuk kategori premium. Tapi karena jumlahnya banyak, ratusan ( ? ), berlaku hukum pasar,,,untuk kita di Indonesia.
Zold-Jakarta
PERANAKAN ADVERTISING POSTCARD I
2 KARTU POS IKLAN DENDENG KECAP & ACAR
Block printing, divided back, belum terpakai.
1940an, cetakan N.V. SIE DHIAN HO dan TJAHAJA, Solo, Indonesia.
14,8 x 9,8 cm dan 15 x 10,2 cm.
Ke-2-nya:
Zold-Jakarta
Saturday, August 9, 2014
GLAZED YIXING TEA BOWLS #1
4 CANGKIR TEH YIXING
1910 - 1930, Yixing, Cina
Glasir hijau di atas terakota
Diameter 4 cm, tinggi sekitar 2,5 cm
Benda terpakai dengan patina teh (mudah di bersihkan, tapi dosa ), 3 buah utuh, 1 buah / cangkir ke 4 ada grimpil lumayan di bibir atas dan grimpil kecil di pantat bawah
Termasuk jenis keramik eksport hanya untuk wilayah Asia Tenggara, mungkin pesanan khusus untuk kalangan Cina Peranakan, maka jumlahnya jauh lebih sedikit di bandingkan teko Yixing-nya, karena teko Yixing tersebar di seluruh dunia, tidak hanya di Cina sendiri, tapi di eksport ke Asia, Eropa dan Amerika.
Kita di Indonesia terutama di Jawa bisa mendapatkan cangkir seperti ini 'relatif' masih mudah, tapi di luar itu, cangkir jenis ini bisa dikategorikan langka,,kelangkaannya nyaris mirip seperti keramik jenis 'njonja ware', hanya masih kalah / belum populer saja.
Sama hal-nya dengan jenis cangkir - cangkir sloki kecil Cina lainnya, cangkir Yixing ini juga sering di pakai untuk di isi teh atau arak sebagai sesaji di atas meja sembahyang bagi Dewa maupun leluhur.
4 buah cangkir mini ini :
Zold-Jakarta
Thursday, August 7, 2014
STRAITS CHINESE ALTAR CLOTH
KAIN TOKWI 8 DEWA
1960 - 1970, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra dan benang kilap di atas kain satin
108 cm x 110 cm
Benda terpakai yang masih sangat baik
Kain altar / meja sembahyang dengan motif 8 dewa dan 3 dewa personafikasi astrologi Cina untuk berkah kebahagiaan (spiritual), rejeki kemakmuran (materi) dan panjang usia, yang biasa disebut Fu Lu Shou atau Hok Lok Siew. Urutan ketiga-nya dari kanan ke kiri seperti membaca huruf Cina.
Penggunaan kain satin pada sulaman Cina Peranakan baru mulai marak setelah diatas tahun 1930an, walaupun di Eropa jenis kain ini telah beredar sejak permulaan abad 20. Kain satin di ciptakan sebagai kain alternatif pengganti kain sutra yang lebih mahal karena murni 100 persen bahan alam. Fisiknya mirip, hanya satin lebih tebal, licin dan lebih mengkilap, sutra lebih lembut dan ringan serta lebih berpori sehingga jauh lebih nyaman untuk tubuh manusia.
Penggunaan mesin nampaknya juga sudah dimulai setelah tahun 1950an, dan ditambahkan pengerjaan tangan untuk warna atau materi tertentu.Terlihat kerapatan sulamannya jauh melebihi kerapatan sulaman tangan. Konsep kemeriahan warna - warna cerah dan 'ngejreng' yang menjadi ciri kegemaran Peranakan tidak hilang, malah semakin menjadi- jadi.
Tokwi ini mungkin hanya di pakai beberapa kali, setelah itu hanya tersimpan rapi. Karena setelah jaman Orde Baru segala yang berbau Cina mulai terbatasi, tokwi - tokwi yang dibuat setelahnya pun cenderung menjadi lebih sederhana, mungkin hanya berwarna merah dengan satu dua tulisan Cina. Hilang sudah kreatifitas dan selebrasi, lebih pada penahanan diri,,,
Zold-Jakarta
Thursday, July 31, 2014
CHINESE ENCYCLOPEDIAS (?)
BUKU ENSIKLOPEDIA (?) BAHASA CINA
1920 - 1940 (?), Cina
Hard cover, 13,5 cm x 19,5 cm, tebal 5,5 cm
Berisi sekitar 700an lembar atau sekitar 1400 - 1500an halaman
Semua halaman masih lengkap, masih lumayan baik
Buku ini dulunya milik Bapak Liem Djie Hoen, seorang lelaki intelektual Peranakan yang juga pemilik perusahaan batik ''Liem Djie Hoen'' di Ngabean, Jogjakarta pada jaman Belanda. Batiknya kebanyakan batik sogan dengan motif yang kadang - kadang sangat unik, seperti kapal laut dan pesawat baling - baling misalnya.
Buku semacam ensiklopedi tentang benda - benda budaya dan keilmuan Cina juga dunia, kadang - kadang ada tampilan panduan gambar pada banyak halamannya. Buku apa tepatnya, tidak tahu pasti karena tidak menguasai bahasa dan aksara Cina.
Zold-Jakarta
Subscribe to:
Posts (Atom)





