MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.
Sunday, December 4, 2016
CHINESE SHIWAN GREEN GLAZED TABLE SPITTOON
PAIDON KINANGAN PERANAKAN
Keramik stoneware glasir hijau
Abad 18 - 19, Shiwan, Guangdong, Cina
Diameter sekitar 12 cm, tinggi 11,7 cm
Ada 1 cuil kecil dan sedikit hairline tipis dibawahnya.
Ada 2 titik lecet glasir, kondisi relatif baik untuk jenis keramik ini dan mengingat sebagai benda pakai dengan usia tua
Keramik dari daerah Shiwan, salah satu daerah di provinsi Guangdong, sangat jarang mempunyai bentuk ini. Kebanyakan produksi dari Shiwan untuk Asia Tenggara pada abad 19 hingga awal abad 20 berbentuk gentong / guci besar naga, wadah jahe / ginger jar, atau teko besar dan perlengkapan rumah tangga lainnya.
Bermotif timbul se-ekor Naga mengejar bola api, paidon ini diperkirakan untuk mengakomodasi kebutuhan kaum Peranakan di Asia tenggara pada abad 18 - 19, sebagai tempat membuang ampas sirih pinang.
1 buah spittoon ini :
Zold - Bekasi
REPOST - STRAITS CHINESE SILVER BELT WITH BIRDS NAME PATTERN II
SABUK PERAK PERANAKAN NAMA BURUNG II
Perak kadar baik
Akhir abad 19 / awal abad 20, Jawa, Indonesia
74 cm x 8,9 cm
Berat sekitar 283 gram
Ada sedikit luka bekas repair lama, relatif masih baik
Sabuk dengan motif burung yang berbeda-beda pada setiap panelnya, nama setiap burung ditulis masih dalam bahasa Melayu Ejaan Lama / Ejaan Van Ophuijsen.
Ini adalah tipe yang tidak menggunakan kepala sabuk, selain kehalusan pembuatan yang detail, ke-unikan dan kelangkaannya terletak pada ukuran setiap panel yang relatif besar.
Berukuran sekitar 8,9 x 6,5 cm, panel ini hampir sebesar 'kepala sabuk' pada umumnya sabuk Peranakan.
Keterangan lain mengenai sabuk sejenis ada di : SABUK MOTIF NAMA BURUNG I
Zold - Jakarta
Wednesday, November 30, 2016
STRAITS CHINESE GILDED SILVER HAIRPINS
2 BUAH TUSUK SANGGUL PERAK CINA PERANAKAN
Perak kadar sedang ( 500 - 600 ) lapis emas
Akhir abad 19, Cina
Salah satu marking huruf Hanji nama toko pembuat ' Jin Yuan ' (?)
Panjang 10,2 cm x 2,5 cm dan 4,3 cm x 6,2 cm
Total berat 12,3 gram
Salah satu ada sobek kecil dan penyok sedikit-sedikit karena pemakaian
Gilding ada yang sudah memudar, relatif masih baik
Walau dipergunakan oleh kaum Cina Peranakan, kedua tusuk sanggul ini adalah bentuk tradisional yang di pakai oleh kaum wanita dari daerah Cina bagian Selatan seperti Guangdong, Fujian dan Hainan.
Kebanyakan bentuk serupa juga cenderung bisa ditemukan pada penggalian makam-makam kuno Cina Peranakan yang berasal dari abad 19, baik dari perunggu, perak atau emas.
Perak pada tusuk sanggul dengan bentuk ini juga jarang ditemukan yang mempunyai kadar perak tinggi. Hal ini banyak disebabkan oleh sifat karakter logam perak, kadar yang tinggi membuatnya terlalu lunak dan mudah penyok untuk benda pipih ramping tampa volume ini.
Bahkan untuk beberapa 'Chinese export silver' yang bermarking 'pure silver / chun yin / chun wen' tidak menjadi jaminan atas tingginya kadar perak. Sistim peng'kode'an kandungan perak Cina tidaklah seketat sistem Eropa, dan sangat longgar kadarisasinya, biasa berkisar antara 500 - 900 prosentase peraknya.
Oleh beberapa kalangan, hal kadar perak juga bukan faktor penting untuk menilai value dari benda perak Cina, titik berat lebih diutamakan pada kualitas bentuk dan kelangkaan benda itu sendiri.
Kedua benda diatas bukanlah set yang harus dipergunakan secara bersamaan.
Walau ketika didapat berasal dari 1 sumber pemilik, keduanya berasal dari 'toko pembuat' yang berbeda. Jika dikehendaki, masing-masing dapat dipergunakan sendiri-sendiri secara terpisah.
Tidaklah terlalu umum, walaupun ada, menemukan motif kupu-kupu dan kelelawar dalam 1 panel bersamaan. Karena keduanya sama-sama merepresentasikan kegembiraan dan kebahagian.
Simbol kupu yang identik untuk wanita juga bermagna kecantikan, romantis, khayalan dan musim panas. Gabungan kupu dengan bunga juga menandakan keselarasan perkawinan dan peleburan jiwa pasangan.
Kelelawar selain lambang kegembiraan juga lambang kemujuran.
Gabungan ke-3 motif tadi, kupu, bunga dan kelelawar secara harafiah bermakna perkawinan yang tepat dengan pasangan yang serasi dan cantik akan membawa kebahagian, kegembiraan berlimpah dan keberuntungan hidup.
Motif tusuk konde satu lagi adalah pohon bambu dan bunga prunus, keduanya melambangkan pasangan suami-istri, yang kombinasi ke-2nya dikenal sebagai istilah ' double happines of bamboo and plum '.
Di tengahnya terdapat burung bangau, selain lambang status juga sama seperti kura-kura, adalah lambang panjang umur. Bangau oleh bangsa Cina dipercaya dapat hidup ratusan tahun.
Jika burung Hong adalah raja dari segala burung dari jenis imaginier, bangau adalah burung tingkatan no.1 / teratas dalam jenis burung realitas.
Derajatnya yang tinggi diperuntukkan sebagai simbol status hanya bagi pejabat 'Tingkat 1' di jaman Kekaisaran Ming dan Qing.
2 buah tusuk sanggul :
Zold - Tanggerang
Tuesday, November 29, 2016
STRAITS CHINESE SILVER DRAGON HAIRPIN
1 BUAH TUSUK KONDE PERAK PERANAKAN
Perak kadar baik, kulit penyu dan 'lead glass' / kaca manik
Akhir abad 19 /awal abad 20, Jawa, Indonesia
Panjang sekitar 13,5 cm
Ada sedikit sobek pada pangkal perak dan 1 titik bulatan kecil ukiran hilang
Pada tangkai kulit penyu ada lecet sedikit, relatif masih baik
Penggunaan kaca pada alat kesenian Cina telah ada ribuan tahun yang lalu, tehnik yang 'tidak lazim' telah dipergunakan jauh sebelum di gadang-gadang oleh bangsa Barat.
Jenis kaca pada tusuk sanggul ini sedikit berbeda dari jenis ' Peking glass' yang umum di pergunakan untuk membuat manik-manik perhiasan ( di eksport keluar Cina sejak 1800an ). Kaca ini jauh lebih reflektif dan seakan-akan menyimpan cahaya di dalamnya.
Sama seperti emas, giok dan gading, kulit penyu menempati posisi istimewa sebagai material dalam kultur bangsa Cina, bahkan melebihi penghargaan atas perak. Semua ini kemungkinan karena rumitnya proses pemanfaatan kulit penyu dan juga penghormatan bangsa Cina yang tinggi terhadap mahluk kura-kura yang panjang umur. Penggunaan kulit penyu untuk tusuk sanggul populer di era dinasty Qing.
Naga benda ini dihiasi ukiran dengan kawat perak kecil ( filigree ) mempunyai bentuk yang identik sebagai benda Peranakan Cina. Bentuk naga ini kemungkinan sudah beradaptasi dengan budaya setempat. Di Jawa bentuk ini juga kadang dipergunakan oleh kaum pribumi, sama halnya seperti design motif sabuk Peranakan dan lain-lain, sebuah asimilasi budaya yang sangat cair di jaman dulu.
Zold - Jakarta
Subscribe to:
Posts (Atom)