MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.

Monday, April 22, 2019

PERANAKAN WOODEN CONTAINER











1 BUAH TENONG PERANAKAN
Lacquer & prada diatas kayu jati
Awal abad 20, Jawa / Palembang
Diameter 32 cm tinggi 11 cm
Ada lecet, retak dan sedikit tambal lama pada pinggir penutup
Lukis prada banyak memudar

Zold - Jkt

Wednesday, April 17, 2019

PERANAKAN LACQUERED FOOD CONTAINERS














3 BUAH TENONG PERANAKAN CINA
Lacquer merah gincu hitam dan prada diatas kayu jati
Akhir abad 19 / awal abad 20, Jawa atau Palembang
# Tenong I
Diameter 27,5 cm tinggi 15 cm
Ada retak usia, sedikit cuil dan tambal lama pada bibir dalam tenong
Relatif masih baik
# Tenong II
Diameter 22 cm tinggi 9,5 cm
Ada sedikit cuil dan tambal lama pada bibir dalam wadah
Relatif masih baik
# Tenong III
Diameter 25,5 cm tinggi 13,5 cm
Lacquer dan prada sudah bertumpuk oleh penambahan lama
Relatif masih baik

Wadah makanan Cina Peranakan yang terbentuk dari satu bagian kayu utuh dengan tehnik 'bubut' seperti umumnya tenong kayu Peranakan di Indonesia.

3 buah ;
Zold - Jkt

Monday, February 25, 2019

STRAITS CHINESE SILVER BETEL NUT SET WITH OCTAGONAL WOODEN BOX















SET KINANGAN PERAK PERANAKAN 
Perak, kayu lapis lacquer lukis prada & rotan
Abad 19, Palembang, Sumatera Selatan & Jawa, Indonesia
22 cm x 22 cm x 20 cm
Berat biji perak 281 gram
Benda terpakai, ada lecet, kelupas & tusir sedikit-sedikit
Lis rotan gantian lama, secara keseluruhan relatif masih baik

Biji perak kinangan berasal dari Jawa, sedangkan kotak kayu lacquer lukis prada oktagonal seperti ini umumnya berasal dari Palembang, Sumatera,
Area penyebaran kotak untuk kalangan Peranakan ini dapat dijumpai hingga pulau Jawa dan sekitarnya. Suatu siklus perniagaan pada jaman dahulu, sama seperti batik yang berasal dari Jawa dapat ditemukan diberbagai plosok Sumatera dan wilayah lain (hingga manca negara).

Era kotak ini umumnya berasal dari abad 19, dibuat oleh para pengrajin Cina yang berasal dari daerah Canton & Amoy, Guangzhou, Cina yang banyak bermigrasi ke Palembang pada abad 17 - 18 Masehi.
Dibuat dengan menggunakan tehnik & material yang sama persis seperti umumnya benda export dari Cina. Kualitas lacquer yang baik, pengerjaan kayu tehnik tinggi hingga lukisan prada yang detail mengalir menjadi pembeda dengan benda benda sejenis di-era berikutnya ketika telah terjadi adaptasi yang menghasilkan bentuk baru yang kita kenal identik sebagai benda 'lacquer Palembangan'.

Zold - Bekasi

Thursday, February 21, 2019

PERANAKAN CHINESE GLASS OIL LAMP














1 BUAH GELAS LAMOU MINYAK PERANAKAN / TINGCOA
Kaca kristal dan kayu rosewood / Hongmu Suanci (紅酸枝木) dengan lacquer
Akhir abad 19, Jawa , Indonesia
Tatatan kayu : 14 cm x 14 cm tinggi 9,5 cm
Gelas kristal : diameter 11,5 cm tinggi 29 cm
Total ; 14 cm x 14 cm, tinggi 37 cm
Ada 1 cuil tipis pada bibir gelas dan sedikit lecet pada tutup, relatif masih baik

Lampu minyak peranakan yang diletakkan pada meja altar leluhur atau dewa.
Dinyalakan pada upacara perayaan / festifal atau setiap malam hari ketika melaksanakan sembahyang dupa pada dewa / leluhur.

Lampu tingcoa seharusnya berjumlah 2 pasang, dan gelas pada set ini bukanlah asli bawaannya karena seharusnya mempunyai ukuran kaki yang sama dengan lubang tatakan kayu. Tetapi penggabungan seperti ini adalah hal yang umum terjadi mengingat betapa seringnya benda tingcoa didapat secara terpisah.

Untuk kebutuhan lampu tingcoa , gelas kristal dipesan secara khusus dari Eropa, umumnya negara Eropa Timur seperti Chekoslovakia / Bohemia yang terkenal dengan kualitas pengerjaan kristalnya.
Dengan hiasan cukit / faset, kebeningan, kekerasan dan bobot yang melebihi kaca / gelas biasa, kaki gelas tincoa juga mempunyai bentuk khas, umumnya sangat tebal agar tidak mudah terjatuh.

Pada wadah gelas di-isi bahan bakar minyak ikan paus atau minyak tumbuhan hingga minyak 'klenteng' di-era modern, sumbu kapas mengapung diatasnya dengan bantuan lempeng kecil kayu 'apung'. Tutup dibuka ketika menyala, untuk mematikan cukup hanya dengan mengembalikan 'tutup' pada posisinya. Ini adalah praktek penggunaan lampu tingcoa yang umum ditemukan di rumah Peranakan seputar pulau Jawa dimasa lalu.

Hal yang berbeda menurut beberapa literatur buku 'luar' yang menyatakan penggunaan tingcoa adalah meletakkan minyak pada bagian 'tutup' yang diletakkan terbalik didalam gelas. Menurut saya pribadi penggunaan seperti itu adalah selera personal atau kelompok kecil tertentu, bukan kebiasaan secara umum terutama untuk Peranakan di pulau Jawa.
Bisa juga praktek minyak dalam tutup hanya pada jenis tingcoa untuk acara khusus, tidak menyala / dipergunakan sepanjang hari seperti pada Peranakan di Jawa.
Untuk penggunaan rutin membutuhkan hal praktis dan efisien, hal yang menjadi ciri karakter etnis Cina diseluruh dunia. Meletakkan minyak pada tutup tidaklah efisien karena harus menuang setiap kali ingin dipergunakan atau membiarkan minyak terbuka terus tampa proteksi walau tidak dinyalakan. Hal terseut juga mengesampingkan sisi estetika design tingcoa yang terlihat megah terutama ketika dalam posisi tertutup di siang hari.

1 buah set lampu tingcoa :
Zold - Bks