MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.

Friday, May 16, 2014

YIXING ZHISHA TEAPOT










TEKO TEH YIXING
1920 - 1930, Yixing, Jiangsu, Cina
Terakota bahan dasar tanah liat Zhisha ( purple sand ), kayu jati dan kawat baja
Marking " yixing zhisha" di pantat teko
Diameter 12,8 cm, tinggi dengan handel 20,5 cm, panjang dengan cucuk 16,5 cm
Kawat pegangan dan tutup bukanlah asli bawaan teko, ada cip di mulut teko, grepes pada penyangga tutup dan retak di sekitar lubang pengait kawat bagian depan

Teko teh Yixing diakui sebagai teko yang mempunyai bahan dasar terbaik di dunia untuk penyajian teh karena karakteristiknya yang istimewa dan unik.
 Tanah liat Zhisha sangat istimewa karena beberapa hal, diantaranya adalah tingkat kepadatan / densiti -nya yang tinggi dan struktur komposisinya yang berbeda di banding tanah liat yang lain. Hal ini mennyebabkan teko Yixing dapat mempertahankan panas teh lebih lama dan lebih awet, tingkatannya hampir 3 kali lipat dari teko jenis apapun didunia. Bisa di perbandingkan langsung, sebuah seduhan teh di dalam teko Yixing yang baik akan awet tidak basi selama 2 - 3 hari, berbeda dengan teko jenis lain ( dari keramik, terakota, kaca atau logam ) yang hanya akan bertahan sekitar 1 harian saja. Hanya kalah awet jika dia dibandingkan dengan freezer kulkas.

Walaupun tingkat kepadatannya tinggi, teko Yixing tetap berpori / porous dalam skala tertentu, pori inilah yang bertanggung jawab atas aroma dan citarasa teh yang dibuat didalamnya. Aroma dan intisari teh terserap dan terperangkap didalam struktur molekulnya yang ajaib ( tapi bukan Castron magnetik ).
Penyerapan yang terjadi oleh pemakaian yang bertahun - tahun menyebabkan teko ini dapat menghasilkan aroma, warna dan citarasa teh yang luarbiasa, makanya menjadi pantangan untuk mencuci / menggosok teko Yixing yang telah terpakai.
Ataupun menyeduh jenis teh yang berbeda-beda di sebuah teko Yixing adalah sebuah kesalahan fatal. Akan berantakan aroma dan rasanya, tercampur aduk, karena pori Yixing sangat sensitif, seperti a.b.g, gampang terpengaruh. Satu buah teko Yixing hanya boleh untuk menyajikan satu jenis teh seumur hidupnya.

Begitu populernya teko Yixing dalam tradisi minum teh, hingga ada puja puji untuk si teko, yang mengumpamakan AIR (panas) sebagai IBU untuk si teh, dan teko YIXING sebagai AYAH-nya.
Ataupun anekdot lain, yang padahal adalah kenyataan ; sebuah teko Yixing yang telah dipakai puluhan tahun ketika diseduh dengan air panas saja, walaupun tampa daun teh didalamnya, akan tetap menghasilkan air teh dengan kualitas aroma, warna dan rasa yang sama enaknya.

Teko diatas mempunyai tutup kayu yang tidak dapat menutup sempurna, agak miring dan berongga. Entah sengaja dibuat begitu supaya air dapat mengalir lebih deras dr cucuk teko,atau digantikan secara sembarang dr tempat lainnya, tapi ini adalah bawaan asli pemilik sebelumnya dan telah terpakai puluhan tahun terlihat dari patina dan rekahan-nya.
Pegangan kawat adalah tambahan baru oleh kami, dari kawat baja lama, diberikan sedikit oksidasi buatan pada ujung logam bekas potongan baru, hanya supaya alami.
Teko Yixing campur aduk ini :
Zold-Jogja

Monday, May 12, 2014

STRAITS CHINESE SHOULDER CLOTH EMBROIDERY








KAIN SELENDANG SULAM PERANAKAN
1930an, Sumatra Barat, Indonesia
Benang emas dan benang sutra diatas kain sutra
Ukuran kain 32,5 cm x 136 cm
Ukuran kain berikut rumbai - rumbai 32,5 cm x 185 cm
Benda terpakai dengan kondisi yang masih baik, ada satu bagian kecil yang sudah sobek dan beberapa titik benang yang lepas / kendor.

Penggarapan selendang ini menggunakan tehnik sulam ''Peking Knot'' atau "Forbidden Stitch" yang agak jarang di jumpai pada seni sulaman Peranakan di tanah Jawa ( walaupun ada ), tapi lumayan populer di daerah pesisir Sumatra.
Tehnik "Peking Knot" sendiri termasuk salah satu tehnik sulam yang paling dihargai di Cina daratan, masih dipraktekkan hingga sekarang.

Selendang Cina Peranakan Sumatra terutama daerah Minang ini hanya dipakai para wanita "keturunan" pada acara khusus / perayaan dan pernikahan. Didalamnya ada motif burung merak, yang melambangkan kehormatan dan keanggunan si pemakainya.
Benda kesenian dan tradisi Cina Peranakan di daerah Sumatra dalam beberapa hal memang sedikit berbeda dengan Peranakan di Jawa, terutama sangat terlihat pada kerajinan benda peraknya.

Termasuk salah satu jenis kain sulam Peranakan yang jarang di jumpai, walaupun bentuknya terlihat sederhana, jumlahnya jauh lebih sedikit jika di bandingkan dengan kain sulam Tokwi.
Zold-Jakarta