MENCOBA MENGHADIRKAN KEBERADAAN BENDA-BENDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TATA CARA KEHIDUPAN DAN BUDAYA CINA PERANAKAN DI INDONESIA PADA JAMAN DULU SECARA BEBAS DAN SUBYEKTIF.

Friday, August 29, 2014

STRAITS CHINESE BATIK ALTAR CLOTH












KAIN BATIK TOKWI PERANAKAN MOTIF 8 DEWA
1960 - 1970, Jawa Tengah, Indonesia
Batik tulis dan lukis di atas kain mori
112 cm x 115 cm
Benda terpakai dengan kondisi masih relatif baik, ada beberapa lubang dan sobek kecil, tidak terlalu kentara.

Tokwi yang di buat dengan cara batik adalah salah satu keistimewaan tradisi  Peranakan Indonesia, lahir dan tercipta dari asimilasi budaya asli Indonesia dengan budaya Cina. Tokwi jenis seperti ini hanya ada dan berasal dari Indonesia, tidak ada di benda Peranakan negara lain manapun.
Batik Cina Peranakan berupa sarung atau kain panjang walaupun berasal dari pulau Jawa, banyak tersebar di kalangan Peranakan negara lain karena sudah di eksport dari pesisir Jawa sejak abad 19 awal, tapi tidak begitu halnya dengan batik kain tokwi.
Kain batik sarung adalah komoditas dagang, kebutuhan primer banyak orang, sedangkan tokwi batik lebih bersifat personal dan hanya dibutuhkan dalam jumlah yang lebih terbatas, sehingga tidak cukup potensial untuk dijadikan komoditas eksport keluar pulau Jawa.

Batik tokwi adalah istimewa, banyak yang mempunyai desain personal berdasarkan pesanan pribadi pemakai, sehingga kadang - kadang motif batik tokwi tertentu adalah satu - satunya di dunia, tidak memiliki motif kembarannya dimana pun. Hal ini banyak terjadi pada batik tokwi di awal abad 20.

Tokwi batik motif 8 dewa dan Fu Lu Shou / Hok Lok Siew :
Zold-Blora

Wednesday, August 20, 2014

EMBROIDERED CHINESE LOTUS SHOES











                           Photo via Sisterwolf, Maidens with Bound Feet, c.1880

SEPASANG SEPATU SULAM KAKI " LOTUS "
1900 - 1930, Cina
Sulam tangan dengan benang sutra dan emas di atas kain beludru
16 cm x 6 cm, tinggi 7,5 cm
Benda tua dengan kondisi belum terpakai / N.O.S, beberapa bagian sulam ada yang sudah menipis atau hilang, secara keseluruhan masih baik

Tradisi membebat kaki sejak usia dini ( 4 - 9 tahun ) supaya kaki menjadi mirip / identik dengan kuntum bunga lotus / padma adalah tradisi kuno Cina sejak abad 10. Bentuk kaki mungil seperti lotus ini dianggap mempunyai nilai strata dan eksotisme tinggi di mata pria Cina jadul. Tradisi yang di mulai dari lingkungan kekaisaran dan ningrat Cina yang kemudian menyebar ke masyarakat umum sampai pedesaan. Tradisi yang sebenarnya "mengerikan " ini amat susah dilarang, bahkan seorang Kaisar pun tak mampu menghentikan tradisi ini dari rakyatnya. Hanya pemerintahan nasional komunis yang mampu benar - benar melenyapkan tradisi ini pada tahun 1949, dengan ultimatum bahwa wanita yang ber"kaki lotus" tidak efisien untuk pembangunan negara. Kalau tertarik bisa baca uraian ringkasnya di Wikipedia tag " foot binding ".

Walaupun benda ini di dapat di Jawa, Indonesia, tradisi " kaki lotus " tidak di kenal di Peranakan Indonesia. Kebanyakan pendatang dari Cina daratan ke pulau Jawa menikah dengan wanita pribumi, buat Nyai - Nyai ini tentu adalah hal yang mengerikan menerapkan tradisi " kaki lotus " pada anak perempuannya.
Wanita - wanita yang memiliki ' kaki lotus' di Indonesia adalah pendatang totok, yang kakinya sudah di 'bubut' sejak dari Cina Daratan. Wanita Cina di Jawa yang terakhir 'ter-rekam' mempunyai ' kaki lotus ' terjadi sekitaran tahun 1940an dengan usia lanjut. Dan diperkirakan "wanita berkaki lotus ' sudah tidak ada lagi / punah di pulau Jawa sejak 1950an. Walaupun hanya singkat, sepatu lotus turut mengisi perjalanan sejarah Cina Peranakan di Indonesia.

Sepatu ini sepertinya di bawa atau di import dari Cina Daratan, masih belum terpakai, ukuran sepatunya masih fleksibel, karena biasanya benang jahitan bagian belakang sepatu dipotong untuk ditambahkan kain, menyesuaikan ukuran kaki pemilik. Sepatu lotus seperti ini lumayan jarang tersisa di benda - benda Peranakan, apalagi dengan sulaman se 'rajin' ini.

Zold-Jakarta

Sunday, August 10, 2014

PERANAKAN ADVERTISING POSTCARD II





KARTOE POS TOKO MADJOE
Block print, divided back, belum terpakai.
1940an, Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
14,8 x 9,8 cm dan 15 x 10,2 cm

2 buah p.c :
Zold-Surabaya

PELIKAAN SIGAREN






PRODUK CERUTU PELIKAAN
Offset print diatas kertas.
1930an, cetakan " SAM HOO ", Kudus, Indonesia.
Produk cerutu dari  The Kim Hok, Kedu, Temanggung.
51,5 x 36,5 cm.
Relatif baik, ada sedikit grepes pinggir dan 2 lubang kecil.

Sebenarnya ini adalah iklan produk cerutu yang lumayan bagus, offset lithograph-nya masih tipe awal. Terlihat '' pola dot ''nya masih sangat simpel, hanya titik dot / roset satu warna saja, sedangkan 3 warna primer dan hitam tidak memiliki pola / pattern dot. Kualitas cetak dan desainnya baik, begitu juga usianya, lumayan uzur.

Kalau jumlahnya limit / sedikit, mungkin iklan kertas ini akan masuk kategori premium. Tapi karena jumlahnya banyak, ratusan ( ? ), berlaku hukum pasar,,,untuk kita di Indonesia.

Zold-Jakarta

PERANAKAN ADVERTISING POSTCARD I



2 KARTU POS IKLAN DENDENG KECAP & ACAR
Block printing, divided back, belum terpakai.
1940an, cetakan N.V. SIE DHIAN HO dan TJAHAJA, Solo, Indonesia.
14,8 x 9,8 cm dan 15 x 10,2 cm.

Ke-2-nya:
Zold-Jakarta

Saturday, August 9, 2014

GLAZED YIXING TEA CUP 1








4 CANGKIR TEH YIXING
1910 - 1930, Yixing, Cina
Glasir hijau di atas terakota
Diameter 4 cm, tinggi sekitar 2,5 cm
Benda terpakai dengan patina teh (mudah di bersihkan, tapi dosa ), 3 buah utuh, 1 buah / cangkir ke 4 ada grimpil lumayan di bibir atas dan grimpil kecil di pantat bawah

Termasuk jenis keramik eksport hanya untuk wilayah Asia Tenggara, mungkin pesanan khusus untuk kalangan Cina Peranakan, maka jumlahnya jauh lebih sedikit di bandingkan teko Yixing-nya, karena teko Yixing tersebar di seluruh dunia, tidak hanya di Cina sendiri, tapi di eksport ke Asia, Eropa dan Amerika.
Kita di Indonesia terutama di Jawa bisa mendapatkan cangkir seperti ini 'relatif' masih mudah, tapi di luar itu, cangkir jenis ini bisa dikategorikan langka,,kelangkaannya nyaris mirip seperti keramik jenis 'njonja ware', hanya masih kalah / belum populer saja.

Sama hal-nya dengan jenis cangkir - cangkir sloki kecil Cina lainnya, cangkir Yixing ini juga sering di pakai untuk di isi teh atau arak sebagai sesaji di atas meja sembahyang bagi Dewa maupun leluhur.

4 buah cangkir mini ini :
Zold-Jakarta


Thursday, August 7, 2014

STRAITS CHINESE ALTAR CLOTH









KAIN TOKWI 8 DEWA
1960 - 1970, Jawa Tengah, Indonesia
Benang sutra dan benang kilap di atas kain satin
108 cm x 110 cm
Benda terpakai yang masih sangat baik

Kain altar / meja sembahyang dengan motif 8 dewa dan 3 dewa personafikasi astrologi Cina untuk berkah kebahagiaan (spiritual), rejeki kemakmuran (materi) dan panjang usia, yang biasa disebut Fu Lu Shou atau Hok Lok Siew. Urutan ketiga-nya dari kanan ke kiri seperti membaca huruf Cina.

Penggunaan kain satin pada sulaman Cina Peranakan baru mulai marak setelah diatas tahun 1930an, walaupun di Eropa jenis kain ini telah beredar sejak permulaan abad 20. Kain satin di ciptakan sebagai kain alternatif pengganti kain sutra yang lebih mahal karena murni 100 persen bahan alam. Fisiknya mirip, hanya satin lebih tebal, licin dan lebih mengkilap, sutra lebih lembut dan ringan serta lebih berpori sehingga jauh lebih nyaman untuk tubuh manusia.

Penggunaan mesin nampaknya juga sudah dimulai setelah tahun 1950an, dan ditambahkan pengerjaan tangan untuk warna atau materi tertentu.Terlihat kerapatan sulamannya jauh melebihi kerapatan sulaman tangan. Konsep kemeriahan warna - warna cerah dan 'ngejreng' yang menjadi ciri kegemaran Peranakan tidak hilang, malah semakin menjadi- jadi.

Tokwi ini mungkin hanya di pakai beberapa kali, setelah itu hanya tersimpan rapi. Karena setelah jaman Orde Baru segala yang berbau Cina mulai terbatasi, tokwi - tokwi yang dibuat setelahnya pun cenderung menjadi lebih sederhana, mungkin hanya berwarna merah dengan satu dua tulisan Cina. Hilang sudah kreatifitas dan selebrasi, lebih pada penahanan diri,,,
Zold-Jakarta